Kamis, 14 Desember 2017

Ceritaku

Pulo juragan
Aku lahir di Pulo Juragan 09 Juli 1997. Mungkin banyak yang tidak tahu Pulo juragan dimana?
Pulo juragan adalah sebuah tempat yang dihuni orang dikelilingi oleh sungai. Sungai yang dimaksud bukan sungai yang bisa dilewati dengan berjalan kaki. Tapi sungai ini yang dalam dan luas. Sungai ini mengalir sampai ke Ledong. Jika ingin menyembrang harus pakai sampan atau bot. Kami menggunakan sampan yang kecil dan minim sekali tapi kami sudah biasa menggunakannya maka kami gak takut. Jika yang belum pernah bisa jadi karam deh disungai itu kalo sudah seperti itu ya harus pintar berenang kalo gak, ya gak tau apa yang terjadi. -_- kalau disungai apa ada gak buaya ya? Ya disungai kami ada buaya! Seram kan. Buaya ya makan manusia. Sudah ada korban tapi walaupun seperti itu kami selalu melewati sungai itu dan masyarakat sekitar. Ada juga yang menyeberang dengan berenang..

Bercerita tentang masa lalu ku waktu kecil itu mengingatkan ku banyak hal.
Jika kami ingin menonton tv maka kami akan menyeberang sungai dulu dan pergi ke seberang namanya tangkahan tinggi.
Waktu pun tak terasa aku pun sudah waktunya bersekolah karna ditempat kami tidak ada sekolah maka aku pun sekolah di seberang. Abangku sudah sekolah dan mereka selalu naik sampan untuk pergi menyebrang dan sampai diseberang mereka berjalan dengan jarak 2 km lebih. Saat aku masuk sd orang tua ku pun mencari tanah diseberang untuk kami tinggal supaya tidak jauh dari sekolah juga tidak melewati sungai. Sore hari kami menyeberang dari Pulo ke tangkahan tinggi dan kami tidur disana dan paginya kami pergi ke sekolah.
Kami melakukannya setiap sore  seperti itu tapi sebelum kami sampai di rumah, kami menonton tv dulu ditengah perjalanan, lalu selesai menonton kami lanjutkan perjalanan  dan sampai dirumah kami langsung tidur besoknya kami pagi pergi kesekolah. Mamak selalu tinggal sendiri di Pulo dan aku, abangku, bapakku tinggal di rumah kedua.
Dengan bertambahnya waktu kami pun dekat dengan tetangga dan kami menonton tv ditetangga.

Suatu hari mamak ku tinggal dirumah kami yang kedua dan di Pulo tidak ada yang tinggal. Aku dan abangku pun pergi kepulo bisa dibilang ladang. Karena penghuninya sudah tidak ada lagi. Dulu Pulo ini banyak masyarakat yang tinggal lama kelamaan mereka pindah karena berbagai faktor. Ada yang karena buaya, lahan yang sempit, kegagalan panen.
Kegagalan panen tersebut belum pernah terjadi. Mulai dari awal pembukaan Pulo juragan. Tapi lama kelamaan gagal panen. Bukan karena tanah yang tidak subur tetapi karena ada hewan yang memakan padi tersebut. Pulo ini terkenal dengan tanah yang subur.  Panen padi yang melimpah sehingga waktu menanam padi lahan ya kalau bisa seluas-luasnya untuk bertanam tapi harga padi tidak terlalu mahal, atau bisa dibilang murah. Hingga suatu saat musim tanam pun tiba  petani mulai  bingung kenapa padi mereka ada yang makan? Tahun berikutnya mereka pun melakukan penanaman padi dengan serentak dan mengkandang padi padi dengan pelastik kandang. Hingga petani mengalami kegagalan karena padi dimakan tikus yang sudah banyak. Sehingga masyarakat memutuskan untuk pindah untuk melanjutkan kehidupannya. Ada yang menjual tanah dan ada juga pindah tempat tinggal tapi masih mengerjakan ladang tersebut.

Kembali ke cerita awal aku dan abangku pergi kepulo (ladang) karena mamak ku yang biasa tinggal diladang pergi kerumah (tangkahan tinggi) karena ada yang mau diselesaikan. Kami pun seperti biasa menyebrang sungai itu dan memberi makan hewan peliharaan. Kami menyalakan api didapur untuk memasak makanan hewan peliharaan. Setelah itu api pun kupadamkan dengan segelas air. Tidak terasa sudah sore kami pun pulang kerumah. Seperti biasa kami menonton tv ditetangga. Kami mendengar ada suara kereta (motor) datang kerumah, aku dan abangku bergegas keluar karena tidak seperti biasanya datang kerumah rame-rame. Saat itu ada yang menyampaikan ada kebakaran di Pulo dan mamakku berkata itu bukan punya kami tapi mereka bilang arah asapnya kami lihat dari ladangmu, setelah itu mereka pun bergegas pergi untuk melihat yang jaraknya 1km dari rumah baru naik sampan dan tiba disana ternyata benar kalo yang terbakar itu punya kami. Malam itu aku merasa sedih karena aku yang melakukannya bagaimana mungkin aku seceroboh itu mematikan api dengan segelas air -_- Paginya sudah nampak jelas tidak ada yang disisahkan. Semua yang ada didalam rumah lenyap termaksud pakaian, perhiasan, padi dan hewan yang kami pelihara bahkan anjing yang kami pelihara terbakar dan enggak tahu kemana tulangnya. Kebakaran itu adalah kesalahanku tapi aku masih SD bagaimana mungkin aku disalahkan terus-menerus-_-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar