Rabu, 20 Desember 2017

Aku mulai bersekolah

Aku mulai bersekolah di SD Negeri 114338 Sei Sentang. Saat itu aku sangat senang akhirnya aku bersekolah. Sekolah adalah impian setiap anak-anak dan masa paling indah. Aku bersekolah dengan berjalan kaki sejauh +2km. Setiap hari aku berjalan kaki. Jika hujan tiba itu adalah hal yang paling sulit. Karena di kampung ku masih becek. Tidak ada jalan yang bagus. Saat aku berjalan aku terjatuh pakaian ku pun kotor dipenuhi dengan lumpur. Aku kadang merasa sedih  dan paling kesal, aku selalu bertanya kenapa bisa jatuh. Huh dalam hatiku. Jika panas terik matahari itu membuat ku berkeringat. Sambil berjalan dengan panas Matahari dan kelaparan serta kehausan. Kadang meminta minum dari orang yang tinggal disitu. Mereka memberikan minum. Walaupun begitu itu adalah kenangan yang tidak terlupakan.

Aku dan temanku selalu bermain yang tidak lagi sering dimainkan anak-anak sekarang. Permainan itu sudah jarang dijumpai. Anak-anak sekarang sudah berbeda jika dibandingkan anak-anak dulu. Jika dulu belum ada malu-malu, saling menyukai dan lain sebagainya yang dirasakan orang dewasa. Jika anak-anak sekarang mereka bahkan merasa paling dewasa dan sudah termakan oleh zaman ini. Tidak ada yang bisa disalahkan. Jika dulu bisa semua tetangga dikenal, kalau sekarang tetangga pun tidak lagi dikenal. Tidak ada yang bisa disalahkan karena orangtua pun sudah membatasi pergaulan anak-anak. Tidak lagi boleh keluar dari pekarangan dengan sembarangan demi menjaga keamanan anak tersebut karena dunia sudah semakin tidak mengenal rasa perikemanusiaan. Mereka tidak mau tau apa yang dirasakan oleh orang lain jika mereka melakukan kejahatan, rasa Sempati dan empati sudah hilang. itu adalah hal yang paling menyedihkan.

Tapi jika dilihat dari sisi lain anak anak sekarang sudah lebih maju, lebih baik dari segi ilmu pengetahuan. Bahkan aku melihat anak-anak sekarang sangat pintar berbeda dengan yang kualami dulu. Mereka pintar bahkan sudah mengarah pada pengetahuan yang harus disukainya. Bahasa Inggris mereka sudah bagus. Bahkan aku mendengar mereka berbicara dengan bahasa Inggris. Aku sangat kagum. Aku yang sudah sebesar ini belum tau bahasa Inggris, hah!?. Aku menyadari pendidikan dulu sudah sangat berbeda dengan sekarang. Tapi sangat disayangkan bila mereka tidak mengetahui bahasa daerah yang menunjukan ciri khas mereka.

Jika mengingat masa dulu aku jarang dikasih jajan jika dikasi itu adalah hal yang paling membahagiakan. Sudah senyum-senyum sepanjang jalan jika dilihat teman-teman pasti mereka langsung menebak kamu diberi jajan ya? Haha lucunya. Uang jajan adalah bahagia yang tak terkira. Harga jajanan pun sangat murah meriah. Dengan uang Rp 400,00 sudah bisa membeli jajanan. Bermain dengan sesuka hati.
Hal yang paling lucu jika sedang bermusuhan dengan teman kita  sendiri. Jika jumpa tiba-tiba bersentuhan pasti langsung dihembus dengan napas mana Anggota tubuh kita yang tersentuh dengan musuh kita. Itu pun saling melakukan hal yang sama. Tapi bermusuhan tidak lama-lama. Paling sebentar lagi sudah kompak layaknya seorang anak-anak yang tidak menaruh dendam. Nama juga anak-anak pemikirannya yang polos tidaklah membuatnya untuk gak bisa bermain-main dengan penuh gembira. 6 tahun  bersekolah sangat membosankan. Tapi itu dijalani dengan penuh kegembiraan. Bahkan saat bermain-main dulu ada musimnya. Seperti musim petakumpet, tali goyang deh kalo gk salah(kalau kami sebut dengan bermain yeye), main karet, guli, boneka, gambar, ini nih permainan membuat balon(lupa deh namanya, permainannya dengan cara menghembusnya yang semakin lama semakin besar Trus bisa ditempel ke muka dan paling kesal sudah besar eee malah ada yang bocor terus ditempel sendiri tuh yang bocor, paling kesalnya lagi kita sendiri meniupnya gak bisa sama sekali, lah punya teman kita bisa, huh salahnya dimana cobak kan sama aja cara meniup nya tapi  kok buat kesal, dan selalu dicoba lagi sampai habis akhirnya juga gak bisa -_-) dan banyak lagi cuman Uda lupa deh namanya. Kami bermain sesuai dengan musimnya. Kayak jualan ya punya musim 😂
Itu adalah hal yang paling menyenangkan. Jika melihat yang orang sudah besar(dewasa) kadang bertanya sendiri kapan sih besar? Kok lama banget yah! Huh.
Tapi sekarang liat anak-anak enak banget yaa hidup mu belum ngerasain sulitnya hidup. Dramatis amat pemikiran ku padahalkan belum jadi orangtua. 😂

Kamis, 14 Desember 2017

Ceritaku

Pulo juragan
Aku lahir di Pulo Juragan 09 Juli 1997. Mungkin banyak yang tidak tahu Pulo juragan dimana?
Pulo juragan adalah sebuah tempat yang dihuni orang dikelilingi oleh sungai. Sungai yang dimaksud bukan sungai yang bisa dilewati dengan berjalan kaki. Tapi sungai ini yang dalam dan luas. Sungai ini mengalir sampai ke Ledong. Jika ingin menyembrang harus pakai sampan atau bot. Kami menggunakan sampan yang kecil dan minim sekali tapi kami sudah biasa menggunakannya maka kami gak takut. Jika yang belum pernah bisa jadi karam deh disungai itu kalo sudah seperti itu ya harus pintar berenang kalo gak, ya gak tau apa yang terjadi. -_- kalau disungai apa ada gak buaya ya? Ya disungai kami ada buaya! Seram kan. Buaya ya makan manusia. Sudah ada korban tapi walaupun seperti itu kami selalu melewati sungai itu dan masyarakat sekitar. Ada juga yang menyeberang dengan berenang..

Bercerita tentang masa lalu ku waktu kecil itu mengingatkan ku banyak hal.
Jika kami ingin menonton tv maka kami akan menyeberang sungai dulu dan pergi ke seberang namanya tangkahan tinggi.
Waktu pun tak terasa aku pun sudah waktunya bersekolah karna ditempat kami tidak ada sekolah maka aku pun sekolah di seberang. Abangku sudah sekolah dan mereka selalu naik sampan untuk pergi menyebrang dan sampai diseberang mereka berjalan dengan jarak 2 km lebih. Saat aku masuk sd orang tua ku pun mencari tanah diseberang untuk kami tinggal supaya tidak jauh dari sekolah juga tidak melewati sungai. Sore hari kami menyeberang dari Pulo ke tangkahan tinggi dan kami tidur disana dan paginya kami pergi ke sekolah.
Kami melakukannya setiap sore  seperti itu tapi sebelum kami sampai di rumah, kami menonton tv dulu ditengah perjalanan, lalu selesai menonton kami lanjutkan perjalanan  dan sampai dirumah kami langsung tidur besoknya kami pagi pergi kesekolah. Mamak selalu tinggal sendiri di Pulo dan aku, abangku, bapakku tinggal di rumah kedua.
Dengan bertambahnya waktu kami pun dekat dengan tetangga dan kami menonton tv ditetangga.

Suatu hari mamak ku tinggal dirumah kami yang kedua dan di Pulo tidak ada yang tinggal. Aku dan abangku pun pergi kepulo bisa dibilang ladang. Karena penghuninya sudah tidak ada lagi. Dulu Pulo ini banyak masyarakat yang tinggal lama kelamaan mereka pindah karena berbagai faktor. Ada yang karena buaya, lahan yang sempit, kegagalan panen.
Kegagalan panen tersebut belum pernah terjadi. Mulai dari awal pembukaan Pulo juragan. Tapi lama kelamaan gagal panen. Bukan karena tanah yang tidak subur tetapi karena ada hewan yang memakan padi tersebut. Pulo ini terkenal dengan tanah yang subur.  Panen padi yang melimpah sehingga waktu menanam padi lahan ya kalau bisa seluas-luasnya untuk bertanam tapi harga padi tidak terlalu mahal, atau bisa dibilang murah. Hingga suatu saat musim tanam pun tiba  petani mulai  bingung kenapa padi mereka ada yang makan? Tahun berikutnya mereka pun melakukan penanaman padi dengan serentak dan mengkandang padi padi dengan pelastik kandang. Hingga petani mengalami kegagalan karena padi dimakan tikus yang sudah banyak. Sehingga masyarakat memutuskan untuk pindah untuk melanjutkan kehidupannya. Ada yang menjual tanah dan ada juga pindah tempat tinggal tapi masih mengerjakan ladang tersebut.

Kembali ke cerita awal aku dan abangku pergi kepulo (ladang) karena mamak ku yang biasa tinggal diladang pergi kerumah (tangkahan tinggi) karena ada yang mau diselesaikan. Kami pun seperti biasa menyebrang sungai itu dan memberi makan hewan peliharaan. Kami menyalakan api didapur untuk memasak makanan hewan peliharaan. Setelah itu api pun kupadamkan dengan segelas air. Tidak terasa sudah sore kami pun pulang kerumah. Seperti biasa kami menonton tv ditetangga. Kami mendengar ada suara kereta (motor) datang kerumah, aku dan abangku bergegas keluar karena tidak seperti biasanya datang kerumah rame-rame. Saat itu ada yang menyampaikan ada kebakaran di Pulo dan mamakku berkata itu bukan punya kami tapi mereka bilang arah asapnya kami lihat dari ladangmu, setelah itu mereka pun bergegas pergi untuk melihat yang jaraknya 1km dari rumah baru naik sampan dan tiba disana ternyata benar kalo yang terbakar itu punya kami. Malam itu aku merasa sedih karena aku yang melakukannya bagaimana mungkin aku seceroboh itu mematikan api dengan segelas air -_- Paginya sudah nampak jelas tidak ada yang disisahkan. Semua yang ada didalam rumah lenyap termaksud pakaian, perhiasan, padi dan hewan yang kami pelihara bahkan anjing yang kami pelihara terbakar dan enggak tahu kemana tulangnya. Kebakaran itu adalah kesalahanku tapi aku masih SD bagaimana mungkin aku disalahkan terus-menerus-_-